TUGAS V: OPINI TENTANG PERENCANAAN TULISAN SANGAT MEMPENGARUHI KUALITAS TULISAN YANG DIHASILKAN

Belajar menulis merupakan sesuatu yang sulit selama ini. Untuk dapat menghasilkan sebuah tulisan, dua hal utama diperlukan, yaitu: penguasaan struktur tulisan dan penguasaan topik yang akan ditulis.
Oleh karena itu, keduanya perlu ditumbuhkan dalam pikiran pembelajar sebelum mereka mulai menulis. Penumbuhannya dapat dilakukan melalui tanya jawab sebelum menulis tentang hal yang telah ada dalam perbendaharaan pengalaman mereka. Dari perbendaharaan pengalaman mereka, kita memilihkan mereka topik untuk ditulis.
Untuk membangkitkan ingatan mereka tentang topik itu, tanya jawab itu diperlukan. Butir-butir pertanyaan perlu dikembangkan sedemikian rupa dan urutannya disusun secara sistematis logis.
Dengan demikian, di samping berfungsi membangkitkan ingatan mereka tentang pengalaman yang akan ditulis, dengan sendirinya butir-butir pertanyaan itu akan memberikan gambaran tentang jangkauan isi dan struktur tulisan yang akan mereka hasilkan. Hal terakhir ini akan menuntun mereka menghasilkan tulisan dengan organisasi yang baik. Setelah tanya jawab selesai, barulah mereka diminta menulis hal yang telah ditanyajawabkan.

Berdasarkan beberapa sumber, mengatakan bahwa ada tiga pendekatan di dalam pengajaran menulis. Ketiganya adalah (1) pendekatan pola, (2) pendekatan konteks, dan (3) pendekatan proses. Karena pendekatan pada dasarnya merupakan seperangkat asumsi tentang sesuatu, maka, masing-masing pendekatan itu pun memiliki asumsi-asumsi.
Pendekatan pola mempunyai asumsi bahwa keterampilan berbahasa dapat dikuasai oleh seseorang melalui peniruan.
Pendekatan konteks mempunyai asumsi bahwa orang berbahasa karena ada tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Demikian juga halnya ketika orang menulis. Dalam penerapannya di kelas, siswa akan disuruh menulis dengan terlebih dahulu diberi tahu oleh guru apa tujuannya menulis, seperti bercerita, menjelaskan, membandingkan, atau menyampaikan pendapat, dan siapa yang menjadi sasaran tulisannya. Dengan konteks semacam itu, siswa diharapkan mampu menghasilkan tulisan dengan pola yang baik, sekali pun mereka belum pernah diajari secara khusus tentang pola-pola tulisan.
Pendekatan proses mempunyai asumsi bahwa menulis merupakan proses kognitif yang terdiri atas beberapa tahap. Secara garis besar, ada tiga tahap yang mesti dilalui jika orang hendak menulis, yaitu: (1) tahap perencanaan, (2) tahap penuangan, dan (3) tahap peninjauan. Dalam penerapannya di kelas, siswa akan dituntun oleh guru untuk berlatih melalui proses menulis itu tahap demi tahap, sehingga mereka merasa bahwa, jika proses itu diikuti, tulisan yang baik dapat dihasilkan dengan mudah.
Idealnya, ketiga pendekatan itu dipadukan penerapannya. Dikatakan demikian karena, kalau dicermati, setiap pendekatan memiliki kelebihan, jika dilihat rasional yang melandasi, walaupun tidak dengan kadar yang sama. Semuanya diperlukan untuk menangani kompleksitas proses dan konteks menulis yang mengharuskan kita dalam pengajarannya memperhatikan secara seimbang bentuk, penulis, isi, dan pembaca karena semua ini bukan merupakan entitas yang terpisah

Untuk membantu supaya dapat menghasilkan sebuah tulisan dengan mudah dan berkualitas, ada dua hal utama perlu ditumbuhkan dalam diri mereka, yaitu: penguasaan topik yang akan ditulis dan penguasaan struktur tulisan. Penumbuhannya dapat dilakukan melalui tanya jawab sebelum menulis tentang hal yang telah ada dalam perbendaharaan pengalaman mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: